KASIH YANG MELAMPAUI BATAS-BATAS

“… tetapi barangsiapa minum air

yang akan Kuberikan kepadanya,

ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”

(Yoh. 4:14)

Kita lebih mudah mengasihi orang lain karena adanya kesamaan. Kesamaan itu bisa dalam hal suku, agama, ras, pekerjaan, dan gereja. Kita dapat lebih sulit mengasihi orang yang berbeda dengan kita, karena ada tantangan dan kendala tersendiri. Kita dapat dicurigai ada niat buruk dibalik perbuatan baik yang kita lakukan. Jadi, mengasihi orang yang berbeda dengan kita ada risikonya tersendiri.

Hubungan orang Yahudi dengan orang Samaria tidaklah harmonis. Sekitar tahun 722 SM, pasukan Asyur mengalahkan Israel Utara, dan membawa warga penduduk lain ke daerah Samaria, sehingga terjadi kawin campur. Oleh karena itu, orang Yahudi memandang rendah orang Samaria. Di tengah situasi demikian, perempuan Samaria itu heran ketika Yesus (orang Yahudi) berbicara kepadanya dan menyatakan bahwa Dia juga ingin minum air dari tempayannya. Yesus digambarkan dengan sangat manusiawi, Ia kehausan setelah melakukan perjalanan. Perempuan Samaria itu terkesan oleh kata-kata Yesus yang menyembuhkan. Interaksi Yesus yang menyapa perempuan Samaria itu menjadi sebuah teladan kasih yang melampaui batas dan menggugah perempuan Samaria itu.

Youth, di tengah kehidupan masyarakat yang terkotak-kotak dibutuhkan kasih yang melampaui batas-batas yang ada. Perbuatan kasih akan semakin terasa ketika kita mampu mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Kasih adalah kebutuhan yang dapat merukunkan dan “penyejuk” di tengah keadaan yang lebih mudah untuk saling membenci.

Mengapa Yesus mau meminta minum kepada perempuan Samaria itu?
Bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda?

Pokok Doa: Menghadirkan kasih dalam perbedaan.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/08/18/