MENCINTAI HUKUM

Betapa kucintai Taurat-Mu!

Aku merenungkannya sepanjang hari.

(Mzm. 119:97)

Banyak orang tidak senang kepada aturan dan hukum. Aturan dan hukum dipandang sebagai hal yang merepotkan. Pandangan tersebut bisa terdapat di kalangan anak sekolah, mahasiswa, warga gereja, dan pengendara kendaraan. Supaya aturan yang ada dapat dijalankan dengan baik, maka dibuat juga bentuk hukuman bagi siapa yang melanggarnya. Oleh karena itu, hukum sering dipandang sebagai hal yang mengekang dan membuat tidak bebas. Orang menjadi taat pada hukum karena rasa takut mendapat hukuman. Itu semua bentuk pengaturan yang membuat orang merasa diberatkan dengan adanya aturan-aturan yang berlaku.

Pemazmur menyampaikan suatu kesaksian bahwa mencintai hukum itu dirasakan “semanis madu.” Pemazmur menyampaikan suatu hal positif dengan mencintai hukum, yaitu: membuat lebih berakal budi, menjadi lebih pengertian, dapat menahan diri dari berbuat kejahatan. Pemazmur mengajak orang agar mencintai hukum. Pemazmur melihat dengan mencintai hukum, maka hukum tersebut akan membimbing kita pada kehidupan. Hukum tidak dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan tetapi menjadi pembimbing kepada kehidupan. Dalam hukum Tuhan, pemazmur merasa mendapat pengertian dan akal budi.

Youth, kita butuh aturan dan hukum. Dengan mencintai hukum dan aturan, orang dapat lebih berada dalam kehidupan. Lihatlah hukum bukan sebagai beban, namun pembimbing. Bukan merepotkan namun menolong kita. Mencintai hukum adalah mencintai kehidupan.

Mengapa pemazmur menekankan pentingnya hukum?
Mengapa hukum itu penting?

Pokok Doa: Taat kepada hukum.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/08/28/