SUNGUT-SUNGUT DAN KRITIKAN

“Kami tidak merasa puas,

karena kami melalaikan Firman Allah

untuk melayani meja.”

(Kis. 6:2)

Orang lebih mudah berbicara daripada mendengarkan. Bukan hanya karena kemampuan mendengar lebih tinggi daripada kecepatan berbicara, tetapi juga karena mendengarkan memerlukan kerendahan hati terutama ketika yang didengarkan merupakan kritikan. Kritik tidak selalu didengarkan atau diterima dengan baik karena kritik mengandaikan adanya kekurangan atau kelemahan pada penerima kritik.

Dalam Alkitab pun ada kisah mengenai tingkat kepuasan dalam pelayanan. Pada suatu kali para rasul merasa tidak puas dengan pelayanan kepada umat. Umat merasa terabaikan. Keterabaian yang dialami oleh umat itu terjadi karena jumlah murid semakin bertambah. Para rasul tidak menutup telinga dan mengabaikan keluhan-keluhan umat, melainkan bersedia mendengar keluhan dan sungut-sungut yang disampaikan. Para rasul bersedia meningkatkan pelayanan kepada umat. Ketika para rasul bersedia mendengar keluhan yang disampaikan umat, dan mengupayakan hal yang diharapkan, hasilnya adalah kebaikan bersama dalam pelayanan.

Youth, kesediaan untuk mendengar itu penting. Dengan kesediaan mendengar kita dapat mengetahui tingkat kepuasan baik dalam pelayanan, pekerjaan, dan keluarga. Memang mendengar keluhan dan sungut-sungut itu tidaklah menyenangkan, tetapi hanya dengan mendengarkan kita mendapat masukkan untuk peningkatan kualitas dan membangun diri kita. Dengan kritikan, kita dibantu oleh orang lain yang memiliki pandangan yang berbeda dengan kita.

Bagaimana sikap para rasul terhadap ketidakpuasan yang ada?
Bagaimana cara positif mendengar kritikan?

Pokok Doa: Sikap rendah hati menyikapi kritik.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/08/20/