TRADISI ATAU PERINTAH ALLAH?

“Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang,

tidak dapat menajiskannya,

tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

(Mrk. 7:15)

Adakalanya orang mengalami kesulitan membedakan mana tradisi dan mana perintah Allah. Misalnya, menghormati orangtua jelas merupakan salah satu perintah Allah di dalam Dasa Titah. Namun, membakar dupa kepada orangtua yang sudah meninggal jelas bukan perintah Allah, melainkan tradisi.

Demikian pula soal membasuh tangan sebelum makan, tampaknya lebih menyangkut tradisi ketimbang hukum Allah. Inilah yang Yesus kecam dari orang-orang Farisi yang saat itu memprotes murid-murid Yesus karena tidak membasuh tangan terlebih dahulu ketika hendak makan. Demikian pula halnya dengan tanggung jawab memelihara orangtua, mereka abaikan demi memberi kurban persembahan kepada Allah. Perintah Allah yang utama untuk menghormati orang­tua dikesampingkan demi ritus di Bait Allah. Padahal, ibadah di Bait Allah barulah berkenan dan mendapatkan maknanya ketika mereka memperlakukan orangtua mereka dengan si­kap penuh hormat dan kasih. Tanpanya, segala ritual yang di­jalani hanyalah semu belaka.

Memang sebagai manusia kita tidak dapat lepas dari tradisi. Di satu sisi, tradisi berguna untuk mencirikan identitas seseorang atau kelompok. Di sisi lain, tradisi bisa juga menjadi alat untuk menghakimi seseorang yang tidak mengikutinya. Jangan sampai tradisi terlalu dijunjung tinggi, sementara perintah Allah yang utama untuk mengasihi diabaikan.

REFLEKSI:

Tradisi memang penting untuk menegaskan identitas dan ketertiban,

namun perintah Allah untuk mengasihi jauh lebih penting.

Ul. 4:1-2, 6-9; Mzm. 15; Yak. 1:17-27; Mrk. 7:1-8, 14-15, 21-23

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/02/