Mempersembahkan Korban bagi Tuhan

“Dan domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja;

sama seperti korban sajian pada waktu pagi

dan sama seperti korban curahannya

haruslah engkau mengolahnya sebagai korban api-apian yang

baunya menyenangkan bagi TUHAN.”

(Bilangan 28:8)

Teens, kita pasti pernah memberikan persem­bahan kepada Tuhan. Misalnya, mengumpulkan kolekte atau memberikan uang kita sebagai dana sosial kepada gereja atau yayasan sosial. Per­tanyaannya, apakah yang sesungguhnya mendasari tindakan persembahan itu? Bisa macam-macam bukan? Salah satu godaannya adalah: “do ut des” yakni “memberi untuk mendapat.” Apa yang seseorang ingin dapatkan setelah memberi persembahan? Macam-macam. Mungkin keun­tungan-keuntungan yang berwujud kebaikan, kenyamanan, dan kemudahan bagi si pemberi persembahan. Tidak tulus, bukan?

Di dalam tradisi ibadah Israel, beragam persembahan korban diberikan. Dalam bacaan kita, ada beberapa jenis yang dituliskan: korban api-apian dengan keterangan detailnya, korban curahan, dan korban sajian. Bahan yang dikorbankan pun beragam, yakni: domba muda, tepung, dan minuman. Tujuan dari itu semua adalah untuk menyenangkan Tuhan. Karena itu hal tersebut perlu dikerjakan dengan setia dan ajek (continue). Motivasinya bukan demi keuntungan si pemberi korban, namun untuk menandai relasi yang baik di antara ia dan Tuhan sebagai penerima korban itu. Kesetiaan dan kelestarian tindakan ritual itu bermuara pada penilaian di hati Tuhan, dalam suasana gembira, kudus dan hormat.

Tentu saja Tuhan mampu memberikan semua kebaikan ketika kita memberi persembahan, namun janganlah hal-hal itu yang menjadi motivasi persembahan kita. Mestinya, motif kita adalah agar Tuhan bergembira dan berkenan pada persembahan dan juga pada hidup kita. Dengan demikian hidup kita sendiri (melalui pilihan, tindakan, perkataan, pikiran dan maksud-maksud hati), menjadi persembahan bagi Tuhan.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/teens-for-christ/