Gadis Bodoh dan Bijaksana

Suatu misteri surgawi yang tidak dapat ditangkap oleh otak manusia dijelaskan oleh Yesus melalui perumpamaan-perumpamaan. Dalam Mat. 25: 1-13 Kerajaan Surga dijelaskan dari kehidupan adat istiadat Yahudi dalam perkawinan. Pada masa Yesus suatu perkawinan biasanya didahului oleh pembicaraan yang panjang antara kedua keluarga mengenai persyaratan perkawinan. Memang bisa terjadi bahwa mempelai laki-laki datang secara tidak terduga, sementara para penyongsong mempelai sudah jenuh dan lelah menunggu pengantin lelaki datang.

Perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh ini menggambarkan sikap dan cara hidup orang yang mendambakan keselamatan kekal (= Kerajaan Surga). Untuk memperoleh keselamatan dibutuhkan kesetiaan dan keteguhan atau kemantapan iman. Jika kita tidak setia dan iman kita lemah, kita mudah terpengaruh oleh iming-iming atau tawaran yang menggiurkan.

Apalagi tawaran itu tanpa kerja keras bisa menjanjikan kepuasan. Karena iming-iming itu maka kita bisa “terlena dan tertidur “, sehingga tidak peduli dan lupa akan keselamatan itu. Dan ketika “terbangun dari tidurnya”, baru sadar ada masalah besar yang tidak mampu diatasinya sendiri (seperti lima gadis bodoh yang hanya membawa pelita tapi tidak membawa minyak dalam buli-buli). Dalam kondisi seperti itu, orang lain pun tidak mampu lagi membantunya. Yang ada hanyalah penyesalan.

Lima gadis bijaksana adalah orang yang cerdas. Kecerdasannya bukan hanya dalam hal intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. Dalam kehidupan sehari-hari makin disadari juga bahwa kalau ingin berhasil dalam suatu bidang, tidak cukup hanya mempunyai otak yang encer saja, melainkan juga ditentukan oleh kemampuan mengolah perasaan, punya empati dan ketulusan. Tentunya juga penting untuk mempunyai kemampuan berbicara atau berdialog, mempunyai hati, atensi, konsiderasi (pertimbangan) dan hal-hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan kecerdasan otak belaka.

Dalam mengejar keselamatan kekal, sangat dibutuhkan kecerdasan spiritual, artinya mampu mengolah berbagai pengalaman hidup dalam terang iman. Kita bisa melihat dan menyadari bahwa Tuhan bekerja dalam kehidupan sehari-hari, selalu menyertai kita baik dalam suka maupun duka. Orang yang cerdas secara spiritual selalu belajar menemukan Tuhan dalam seluruh pengalaman hidupnya. Dan kadang juga kita tidak menemukan Dia sama sekali, tetapi tetap percaya.

Lima gadis bodoh adalah gambaran orang suka teledor dan ceroboh : tidak teliti, kurang fokus, serba terburu-buru, “grusa-grusu” – Jawa, kurang perhatian, egois dan “cuek” atas peristiwa di sekitarnya. Tipe orang seperti ini cenderung ingin hidup enak, tetapi malas bekerja, tidak mau menderita dan berkorban biar kecil dan sebentar. (Lucia Febriarlita-dari berbagai sumber)