SEMANGAT MENGHAKIMI

Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri,

karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

(Rm. 2:1)

“Eh, kamu tahu gak, si Anu itu tukang ngomongin orang. Kamu jangan mau dekat-dekat sama dia, apalagi mencerita­kan masalahmu sama dia. Bisa-bisa semua cerita tentangmu bocor ke banyak orang!” Demikian seseorang memberi na­sihat kepada temannya. Tanpa sadar, ia pun menempatkan dirinya sebagai ‘tukang’ yang suka ngomongin orang.

Dunia yang kita tinggali penuh dengan orang-orang yang mudah menjatuhkan penghakiman kepada orang lain. Tetapi tahukah kita, ketika kita menghakimi orang lain, itu berarti kita merasa diri kita lebih benar daripada orang yang kita hakimi? Atau, kita tidak ingin kekurangan kita terungkap sehingga kekurangan orang lain lebih kita tonjolkan. Rasul Paulus menasihati jemaat di Roma bahwa lebih baik melaku­kan introspeksi diri dan bertobat (ay. 4) daripada melihat kesalahan orang lain. Bila Allah belum menjatuhkan hukuman atas mereka, hal itu berarti Allah dalam kesabaran-Nya memberi kesempatan agar mereka bertobat. Jangan sampai baru bertobat setelah hukuman Allah dijatuhkan!

Di tengah-tengah dunia di mana orang mudah men­jatuhkan penghakiman dan hukuman kepada sesamanya, kita sebagai orang percaya diharapkan memiliki gaya hidup yang berbeda. Bukan gaya hidup suka menghakimi, melain­kan gaya hidup yang mau terus-menerus melakukan intro­speksi diri di hadapan Allah dalam semangat pertobatan terus-menerus.

REFLEKSI:

Orang yang suka menghakimi sesamanya tidak akan pernah

sempat melakukan introspeksi diri guna memperbaiki kesalahan dirinya.

Mzm. 146; Yes. 30:27-33; Rm. 2:1-113

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/06/