Tuhan yang Tersembunyi

.

“Dan Raja itu akan menjawab mereka:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan

untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,

kamu telah melakukannya untuk Aku.”

(Matius 25:40)

Pernahkah kamu bermain detektif-detektifan dan melakukan penyamaran saat memainkannya? Be­tapa asyik rasanya jika penyamaran kita begitu bagus sehingga kita tak dikenali oleh mitra main kita. Dengan penyamaran itu, kita bisa memeriksa bagaimana mitra main kita bersikap.

Dalam bacaan kita, Sang Raja mengadakan persidangan. Audience-nya semua bangsa, namun pemilahannya amat personal: “memisahkan mereka semua, seorang dari seorang” (ay. 32). Tak ada yang tak dihakimi, namun tak ada yang dihakimi sebagai kelompok. Pertanggungjawaban bersifat amat personal, dan itu dilakukan dengan persis serta “full of knowledge,” seperti “gembala memisahkan domba dari kambing” (ay. 32). Terpilahlah 2 kelompok yang dimetaforkan sebagai domba dan kambing itu. Patokan yang dipakai untuk me­milah adalah sikap mereka terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan dan perhatian karena sakit, lapar, haus, telanjang, dalam penjara dan menjadi orang asing (di negeri orang lain). Kejutannya adalah, ada Raja yang tersembunyi di balik orang-orang yang paling hina dan termarginalkan itu. Ia adalah Rex Incognito, Raja yang tak dikenali, Raja yang ter(ber)sembunyi! Justru karena Ia tersembunyi, maka ketulusan karya kasih seseorang bisa diuji oleh-Nya. Ia yang sembunyi, yang akan terus menilik dan menilai hidup seseorang sampai kedalaman batinnya.

Teens, betapa parahnya kamu jika kamu masih berperilaku sebagai kambing yang tak peka pada kehadiran Tuhan di balik orang susah. Namun jika kamu sudah melaku­kan tindakan seperti yang dilakukan para domba, tambahkanlah itu dan jagalah hatimu dengan ketulusan. Lakukanlah segala sesuatunya dalam ketulusan bukan karena dilihat orang atau karena menginginkan imbalan. Allah melihat yang tersembunyi bahkan moti­vasi kita yang tersembunyi dikenali-Nya dengan baik. Murnikanlah hatimu, persembah­kanlah bagi Tuhan.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/10/