DIDIKAN YANG MENDATANGKAN KEDAMAIAN

“… karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,

dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

(Ibr. 12:6)

Sore itu, Acong sedang malas-malasan di kursi. Tiba-tiba ayahnya memanggilnya untuk ikut bersamanya ke atas atap rumah. Sebenarnya ia malas, tetapi karena ayahnya yang me­nyuruh ia tidak berani membantah. Di atas atap rumah, ayahnya menunjukkan bagaimana cara memperbaiki kayu yang terkena rayap. Saat itu, ia tidak mengerti mengapa ayahnya mengajaknya naik ke atas atap. Barulah ketika dewasa ia me­nyadari pentingnya merawat rumah agar tetap baik kondisinya.

Memang didikan pada waktu ia diberikan terasa tidak me­nyenangkan. Kita lebih ingin mengikuti kata hati kita daripada menerima didikan orangtua kita, yang terkadang terasa tidak nyaman dan menyakitkan. Tetapi, akhirnya kita akan menyadari bahwa semua itu adalah demi kebaikan kita sendiri. Sama hal­nya seperti orangtua kita, demikian pula Tuhan mendidik kita selaku anak-anak-Nya. Bahkan, sekali dua kali Ia akan meng­hajar kita ketika kita melakukan kesalahan atau dosa, sebab Ia tidak ingin kita binasa. Kerap orang mudah menyerah ketika mendapat ‘hajaran’ Tuhan berupa penderitaan atau persoalan hidup, padahal Kristus telah menanggung penderitaan yang lebih hebat daripada yang kita tanggung (Ibr. 12:3-4).

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai ke­pada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:11).

REFLEKSI:

Kalau Tuhan mendidik dan menghajar kita,

itu berarti Tuhan sayang kepada kita!

Yes. 38:10-20; Yos. 8:1-23; Ibr. 12:3-13

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/11/