IMAN SEBESAR BIJI SESAWI

“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja

kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,

maka gunung ini akan pindah ….”

(Mat. 17:20)

“Tuhan, singkirkanlah persoalan-persoalan saya. Dengan iman saya yakin bahwa semua persoalan sudah diselesaikan di dalam nama Yesus Kristus.” Demikian doa salah seorang kawan. Sekilas doa demikian terkesan benar, tetapi bukankah itu berarti kita memerintah Tuhan untuk membereskan setiap persoalan kita? Lalu, di manakah letak tanggung jawab kita?

Kerap orang salah memahami Mat. 17:20 mengenai iman sebesar biji sesawi sebagai doa yang mujarab yang mampu menyingkirkan setiap persoalan hidup. Konteks perikop ini adalah ada seorang yang membawa anaknya yang sakit ayan kepada murid-murid Yesus agar disembuhkan, tetapi murid-murid Yesus tidak dapat menyembuhkannya (ay. 15-16). Yesus menegur mereka karena ketidakpercayaan mereka (ay. 17). Lalu Yesus menyampaikan perumpamaan tentang iman sebesar biji sesawi kepada murid-murid-Nya (ay. 20). Memang murid-murid Yesus telah menunjukkan iman kepada Yesus, hanya saja iman mereka itu lemah. Namun, yang menjadi soal bukan kecilnya iman, melainkan bagaimana iman yang kecil dan lemah itu lama-kelamaan harus tumbuh menjadi besar dan kuat.

Bila dikaitkan dengan doa, berdoa dengan iman ‘sebiji se­sawi’ berarti berdoa dengan kepercayaan penuh bahwa Tuhan sanggup mengerjakan apa yang nampaknya bagi kita terasa mustahil, namun bukan berarti menyerahkan tanggung jawab kita sepenuhnya kepada Tuhan.

REFLEKSI:

Tuhan menghargai setiap proses pertumbuhan iman dari anak-anak-Nya.

Yes. 38:10-20; Hak. 15:9-20; Mat. 17:14-21

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/12/