Pilihan untuk Berbuat Baik

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk. 6: 9), demikianlah pertanyaan Yesus yang dilemparkan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka itu secara sengaja memang selalu mencari celah, kapan Yesus akan berbuat salah terutama dalam mematuhi Hukum Taurat khususnya tentang hari Sabat.

Seorang yang menderita karena mati tangan kanannya yang berada di sinagoga pada hari Sabat, bagi Yesus patut dikasihani dan disembuhkan. Tetapi bagi para musuh Yesus, ini suatu perangkap yang bagus untuk menjebak-Nya kalau Ia sampai melanggar aturan hukum Sabat, maka ada alasan kuat untuk menyeret-Nya ke pengadilan agama. Dengan pertanyaan itu Yesus hendak menggugat pengertian lama yang mereka anut tentang hari Sabat.

Hari Sabat memang merupakan “hari khusus yang diperuntukkan untuk Tuhan”, hari untuk beribadat (di sinagoga) dan sekaligus hari beristirahat. Tetapi bagi Yesus, beristirahat untuk berbuat baik adalah sesuatu yang salah. Kita justru berbuat jahat jika melewatkan kesempatan untuk berbuat baik dan menyelamatkan orang lain.

Berbuat kebaikan adalah sesuatu yang universal, berlaku di mana saja, bagi siapa saja, tidak terbatas waktu dan tempat. Bahkan hukum pun dibuat semestinya demi kebaikan itu sendiri, bukan justru bertolak belakang dengan prinsip-prinsip kebaikan.

Praktiknya dalam kehidupan nyata sehari-hari, berbuat kebaikan sering dibatasi oleh sekat-sekat hidup manusiawi. Kebaikan dikotak-kotakkan dalam waktu, kesamaan agama, suku, golongan atau paham politik berdasarkan kriteria-kriteria tertentu atau bahkan dalam kerumitan birokrasi.

Tidak jarang, untuk berbuat kebaikan, orang harus penuh pertimbangan yang menyebabkan keraguan bahkan kecurigaan yang tidak pada tempatnya. Akhirnya orang akan berbuat kebaikan menjadi tertahan atau bahkan terhenti sama sekali.

Dalam Luk. 6: 6-11, Yesus memberikan teladan sejati dalam menjatuhkan pilihan: berbuat kebaikan atau berbuat jahat. Yesus tetap setia melakukan kebaikan, tanpa merasa dibatasi oleh hukum, pandangan dan kesan orang lain. Dia mengajarkan kita bahwa tidak ada waktu yang membatasi kita untuk berbuat kebaikan.

Sebagaimana Allah adalah Tuhan atas waktu dalam menjalankan Karya Agung-Nya yang melampaui batas waktu yang ditentukan oleh manusia, demikian pula kita yang telah diangkat menjadi anak-anak-Nya hendaknya tiada henti melakukan kebaikan dalam segala waktu dan tempat. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)