Buatlah Mataku Bercahaya

Pandanglah kiranya,

jawablah aku, ya TUHAN, Allahku!

Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati ….

(Mazmur 13:4)

Teens, barangkali kamu pernah jengkel kepada Tuhan karena merasa Ia mengecewakanmu atau malah menganggap Ia tak ada. Biasanya, jika kita begitu, maka perasaan yang muncul kemudian adalah perasaan bersalah. Namun bukankah kita diminta untuk jujur kepada Tuhan dan membawa diri kita apa adanya kepada Dia?

Nah, penulis Mazmur ini, yakni Daud, bersi­kap jujur dalam ungkapan yang muncul dari dalam hatinya. Dalam kejujuran itu, ia berani bertanya: “Berapa lama lagi, Tuhan, Kau lupakan aku terus-menerus? … Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (ay. 2). Ia merasa Tuhan tak memperhatikannya, tak memberi tempat pada kecemasan dan kesedihannya ketika para musuhnya nampak berjaya. Ia berterus terang kepada Tuhan. Ia stres, karena diejek dan ditekan para musuhnya. Namun demikian, dalam stres dan kegelisahannya yang jujur dan terus terang itu, ia tidak meminta kehancuran para musuh. Ia tidak hendak mencelakai atau mengharapkan keburukan terjadi bagi para musuh. Hal yang ia minta adalah agar dalam stres dan kegelisahan yang jujur, matanya bercahaya! Apa yang dimak­sud dengan mata yang bercahaya? Apakah ini soal pesona keindahan mata seperti yang sering kita anggap ada pada mata pacar kita? Hehehe…agaknya bukan, ya. Mata bercahaya dikaitkan dengan tujuan tertentu: agar Pemazmur tidak tertidur dan mati (ayat 4). Berarti, “mata bercahaya” adalah soal keterjagaan yang prima. Mata yang bercahaya adalah mata yang tetap terjaga dan berjaga dengan baik. Amat baik, bahkan.

Bagaimana kita bisa memiliki “mata yang bercahaya?” Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan akan memberikannya pada orang yang teguh hatinya dan berpeng­harapan dalam iman, sehingga ia akan tetap bersyukur dalam stres dan kegelisah­annya.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/13/