IMAN DAN PERBUATAN

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai

perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

(Yak. 2:17)

Setiap orang bisa dengan mudah mengatakan kepada pasangan, anak, atau orangtuanya, “Aku mencintaimu,” tetapi belum tentu ia bisa mempraktikkan bahwa ia benar-benar mencintai mereka. Cinta itu teruji ketika orang-orang yang kita cintai se­dang sakit, dalam masalah, atau bersikap tidak seperti yang kita inginkan. Apakah kita tetap bisa mengatakan kepada mereka, “Aku mencintaimu” dan menyatakannya melalui perbuatan yang nyata?

Penulis surat Yakobus menegur orang-orang yang merasa bangga memiliki iman, tetapi dalam kenyataan sehari-hari hidup mereka jauh dari perbuatan yang menunjukkan iman yang mereka miliki. Mungkin mereka adalah orang-orang yang hebat dalam urusan agama atau melakukan ritual agama sehari-hari, tetapi mereka telah gagal mewujudkan sikap dan perilaku ka­sih kepada orang-orang yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan mereka (lih. ay. 15-16). Iman yang demikian kata penulis surat Yakobus adalah iman yang mati (ay. 17), tidak ber­faedah apa-apa bagi kehidupan. Memang manusia pertama-tama dibenarkan karena iman, tetapi selanjutnya iman mestilah mewujud dalam perbuatan-perbuatan baik yang nampak dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Alkitab banyak memberi contoh tentang orang-orang yang menghidupi imannya melalui perbuatan-perbuatan yang mereka jalani. Merekalah orang-orang yang dibenarkan dan diper­kenan oleh Allah.

REFLEKSI:

Iman tanpa perbuatan ibarat tong kosong nyaring bunyinya.

Mzm. 116:1-9; Yos. 2:15-24; Yak. 2:17-26

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/14/