PETRUS DAN IBLIS

“Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,

melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

(Mrk. 8:33)

Apa yang manusia pikirkan sehari-hari? Umumnya mencari kenyamanan, kemapanan, ketenangan hidup, jaminan masa depan. Intinya pusat pikirannya adalah dirinya sendiri. Bila manusia hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, maka hampir bisa dipastikan tidak ada tempat untuk memikirkan apa yang Allah pikirkan.

Menjelang akhir karya pelayanan-Nya di bumi, Yesus be­berapa kali berbicara mengenai penderitaan, kematian, serta kebangkitan-Nya. Bagi para murid, perkataan Yesus ini tidak dapat dipahami. Bukankah Yesus ini adalah Mesias? Mengapa Mesias harus menderita dan mati? Bukankah Mesias seharus­nya menjadi raja, berkuasa, jaya dan menang? Karena itulah Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia. Sebuah tindakan yang amat berani dan sedikit kurang ajar, sebab ti­dak patut seorang murid memotong pembicaraan gurunya yang sedang mengajar, apalagi menarik dan menegurnya di hadapan orang banyak. Menyikapi hal ini, Yesus memarahi Pe­trus di depan murid-murid yang lain katanya, “Enyahlah Iblis …” (Mrk. 8:33). Mengapa Petrus dikatakan Iblis oleh Yesus? Tiada lain karena jalan pikiran Petrus saat itu sedang dipakai Iblis untuk membelokkan rencana keselamatan Allah melalui penderitaan dan kematian Yesus.

Jangan-jangan pikiran kita pun dipakai Iblis ketika kita cenderung mengutamakan kepentingan diri dan tidak mau tunduk pada pikiran Allah.

REFLEKSI:

Memikirkan kepentingan diri sendiri tidaklah keliru tetapi berhati-hatilah,

sebab Iblis bisa memakainya bagi maksudnya yang licik.

Yes. 50:4-9a; Mzm. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mrk. 8:27-38

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/16/