Bijaksana dan Berakal Budi Jernih

“Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah

yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita,

setiap kali kita memanggil kepada-Nya?

Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan

demikian adil seperti seluruh hukum ….”

(Ulangan 4:7-8)

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa iman kepada Tuhan adalah nonsense! Hal yang paling “make sense,” adalah penggunaan nalar, pengolahan rasio, dan pemahaman berdasarkan pengetahuan pribadi. Pandangan semacam itu, tentu mesti kita sikapi dengan hati-hati.

Musa memperingatkan orang Israel yang su­dah merasakan pimpinan Tuhan untuk memeliha­ra ketetapan dan peraturan yang diberikan Tuhan dengan setia, sebab hal itulah yang akan menjadi sumber kebijaksanaan dan akal budi umat Israel. Bahkan orang-orang asing pun akan mengakui kualitas dari kehidupan umat Israel (ay. 6). Selain pengakuan, ada maksud lain dari Musa. Bagi Musa, hikmat dan kajian pikiran yang didasarkan pada apa yang dikehendaki Tuhan adalah tanda keakraban relasi dari Yang Ilahi dengan umat-Nya (ay. 7-8). Kebijaksanaan dan kejernihan akal bukanlah sesuatu di luar ke­dekatan relasional. Kepintaran dan kebijaksanaan bukan lawan dari kehidupan beriman. Bahkan pengalaman dengan Tuhan adalah dasar yang kokoh bagi karya nalar manusia. Ini penting untuk selalu diingat: orang yang bijak dan berpikir jernih bisa sekaligus adalah orang yang akrab dengan Tuhannya. Kita bisa mengenal dan akrab dengan Tuhan lewat kajian pemikiran, lewat pendalaman soal-soal dalam kehidupan kita, lewat berbagai refleksi yang mendalam atas pengalaman kita.

Tentu kita mesti menggunakan pikiran kita dengan maksimal. Namun kita juga memerlukan penyertaan Tuhan agar pikiran dan kebijaksanaan yang kita latih dapat berkembang dengan sempurna. Semakin pintar seseorang, semakin mudah ia ter­kagum-kagum akan misteri kehidupan yang dibingkai oleh Tuhan. Semakin bijaksana seseorang semakin mudah ia merasakan kedekatan dengan Yang Ilahi. Selamat menjadi pribadi yang bijaksana namun sekaligus memiliki kejernihan akal budi.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/27/