Mengasihi Tuhan dengan Akal Budi

Jawab orang itu:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu

dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu

dan dengan segenap akal budimu,

dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

(Lukas 10:27)

Mengasihi sering dihubungkan dengan perasaan. Tentu saja ini benar. Namun tidak selalu demikian, bukan? Mengasihi juga bisa diekspresi­kan lewat dimensi lain, termasuk dimensi akal budi. Apa maksudnya?

Hal yang menjadi point penting dalam ucapan Yesus ini ada dua. Pertama, kata “segenap.” Mengasihi dengan kualitas unggul memerlukan kebulatan tekad dan karya. Mengasihi dengan setengah hati tentulah tidak prima kualitasnya. Kedua, bahwa akal budi diletakkan sejajar dengan hati, jiwa, kekuatan (ay. 27). Jadi, ini soal totalitas dari segi potensi kita sebagai manusia. Jika hendak mengasihi Tuhan, maka diminta semua unsur dalam diri kemanusiaan kita terarah pada-Nya. Akal budi adalah bagian dari potensi yang diberikan Tuhan kepada kita. Oleh karena itu, kita diminta untuk menggunakan analisis, pemahaman, pengetahuan, dan pemikiran kita secara maksimal. Sadarilah bahwa pikiran yang diekspresikan dalam kesungguhan mencari tahu, belajar dan berkarya adalah bentuk cinta kita kepada Tuhan.

Lakukanlah dengan sepenuh hati. Gunakan seluruh potensi yang Tuhan berikan kepadamu. Pacu diri bukan demi prestasi pribadi semata, namun demi cintamu pada Tuhan, Sang Pencipta Pikiran, apa pun model dan ragam kecerdasanmu. Mengabaikan potensi dirimu secara akademis, secara kognitif, bisa jadi menunjukkan pada kekurangseriusanmu mencintai Tuhan. Tujuan dari belajar dan kerja keras bukan sekadar pujian dan rasa bangga, tapi bakti kepada Dia. Ubahlah perspektifmu mulai sekarang. Bangkitlah kembali. Pakai akal budimu dengan optimal agar menginspirasi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tak ada kata terlambat. Mulailah hidup yang lebih berkualitas.

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/28/