Pikiranku Ya Tuhan, Kenalilah

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,

ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku ….

(Mazmur 139:23)

Ucapan “selidikilah… ujilah aku,” bisa dianggap bentuk kepongahan. Namun bisa juga bukan ke­pongahan, terutama jika si pengucap tahu bahwa si penguji tak akan pernah tertipu dan bahwa si penguji kenal betul dengan orang yang minta diuji.

Pemazmur ingin menunjukkan cintanya pada Allah lewat keberaniannya diperiksa oleh Allah. Hal yang diperiksa adalah: pikiran-pikirannya. Di satu sisi, Pemazmur mengakui bahwa pikiran Allah itu terlampau kompleks baginya (ay. 17). Artinya: Allah, sang evaluator tepercaya dan amat bonafide, sama sekali melampaui pikiran Pemazmur. Di sisi lain, Pemazmur sungguh memihak Allah sejak dalam hati dan pikirannya. Oleh karena itu, dalam pikirannya yang terbatas dibandingkan pikiran Allah, si Pemazmur yang terpesona itu hendak menyatakan baktinya pada Allah lewat keberaniannya untuk diuji oleh Allah. Hal itu tidak ia maksudkan sebagai kesombongan, namun sebagai ungkapan rasa bakti: “selidiki aku… kenalilah hatiku… ujilah aku… dan kenalilah pikiran-pikiranku” (ay. 23). Ia ingin menyatakan bahwa seluruh hidupnya, termasuk pikirannya selalu berpusat pada kehendak Allah, bukan kepada apa pun yang lain. Oleh karena itu ia “berani” membuka diri dan berkata: “Lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (ay. 24). Kata-kata seperti itu bukan bermaksud untuk menantang Allah, namun justru mengundang Allah untuk membimbing hidupnya.

Di satu sisi, tentu mudah bagi orang semacam ini tergelincir kepada kepongahan rohani. Namun di sisi lain, jika ia pongah, mana berani ia meminta Allah memeriksanya? Agaknya yang menjadi dasar dari ungkapan itu justru kesadaran akan kemahatahuan Allah. Ia mengakui kemahatahuan Allah dan menjadikannya dasar untuk hidup bersih sejak dalam hati dan pikirannya. Bagaimana dengan kita?

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/09/26/