BOLEHKAH BERBOHONG UNTUK KEBAIKAN?

“Aku tahu juga,

bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus,

maka Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku ….”

(Kej. 20:6)

Seorang anak kecil mengalami kecelakaan berat, sehingga ha­rus dirawat di ruang ICU sebuah rumah sakit. Kakek dari anak ini juga sedang mengalami sakit menahun yang berat. Ketika sang kakek bertanya ke mana cucunya, keluarga menjawab sedang di rumah sakit. Beberapa hari kemudian, ternyata anak tersebut tidak bisa diselamatkan nyawanya, dan keluarga mengalami kebingungan untuk memberitahu si kakek. Setiap kali si kakek menanyakan keberadaan cucunya, mereka mengatakan bahwa cucunya masih di rumah sakit.

Abraham pernah membuat cerita bahwa Sara adalah saudarinya, demi untuk menyelamatkan nyawa mereka di ha­dapan Abimelekh raja Gerar. Tidak salah, karena Abraham dan Sara memang masih memiliki hubungan kekerabatan. Tetapi fakta yang paling benar adalah bahwa mereka adalah sepasang suami istri. Tuhan mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rencanakan, dan Tuhan ingin mereka mengatakan dan melakukan apa yang benar.

Bolehkah berbohong untuk sesuatu yang baik? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang percaya. Kebohongan adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar dan bagaimanapun juga, kebohongan tidak berkenan kepada Allah. Sebuah ke­bohongan biasanya akan diikuti kebohongan-kebohongan yang lain, sehingga tanpa kita sadari kita telah menjadi orang yang hidup dalam kebohongan. Mengatakan hal yang benar kadang menyakitkan, tetapi itulah yang terbaik.

DOA:

Tuhan mampukanlah kami

agar kami menjadi orang yang setia memikirkan dan mengatakan apa yang benar. Amin

Mzm. 8; Kej. 20:1-18; Gal. 3:23-29

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/10/04/