Didikan Orangtua

“Masih ada harapan untuk hari depanmu,

demikianlah firman TUHAN:

anak-anak akan kembali ke daerah mereka.”

(Yeremia 31:17)

Dalam sebuah sharing, Adi menyampaikan kesaksian tentang kasih dari orangtuanya demikian, “Seandainya orangtuaku cuek denganku, mungkin masa remajaku menjadi suram. Ceritanya begini, suatu saat ketika aku duduk di kelas 3 SMP, aku berkenalan dan menjadi teman dengan seorang yang cukup terkenal badboy pada waktu itu. Orang­tuaku mengetahui pergaulanku dengan anak itu. Mereka menegur aku. Ketika aku tidak peduli te­guran Papa, Papa marah kepadaku. Waktu itu aku merasa kemarahan Papa sebagai bentuk tidak sayangnya kepadaku. Setelah aku merenung-renung, ternyata teguran orangtuaku adalah baik. Aku meninggalkan per­temanan dengan anak itu. Tidak lama setelah aku meninggalkannya, aku mendengar kabar bahwa temanku itu ditangkap oleh polisi dan dimasukkan ke penjara karena melakukan pembobolan ATM di sebuah bank. Terkadang didikan orangtua itu keras. Akan tetapi semua itu sebenarnya demi kebaikan kita.”

Teens, Israel sering disebut oleh Tuhan sebagai anak-Nya. Seperti orangtua yang mencintai anak-anaknya, demikian juga Tuhan mencintai umat-Nya. Dibuang­nya Israel ke tanah Babel sering dimaknai oleh Yeremia sebagai cara Tuhan mendi­dik anak-anak-Nya. Didikan itu memang keras, tetapi maksud Tuhan baik. Ia meng­hendaki Israel belajar dan menjadi dewasa. Dengan menjadi dewasa, mereka akan melihat hidup yang berpengharapan (ayat 17).

Teens, didikan orangtua kita adalah salah satu bentuk cinta orangtua kepada kita. Mereka berharap kita menjadi anak yang baik dan memiliki masa depan. Karena itu, hargailah setiap didikan orangtua kita, terbukalah dengan cara pandang dan pertimbangan yang mereka pikirkan. Yakinlah akan cinta mereka yang mengarahkan hidup kita untuk meraih masa depan yang gemilang.

Sumber :https://www.ykb-wasiat.org/2018/10/03/