PENUNJUK JALAN ATAU PENYESAT

“Tetapi barangsiapa menyesatkan …

lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya

lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”

(Mat. 18:6)

Dalam sebuah kegiatan perkemahan pramuka, para peserta remaja dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka diminta mencari sebuah tempat tujuan dengan cara menemukan petunjuk-petunjuk rahasia yang disediakan oleh panitia yang akan mereka temukan di sepanjang perjalanan. Pada saat kelompok pertama dilepas dan mulai menemukan tanda rahasia, kelompok tersebut ternyata mengubah petunjuk-petunjuk yang disediakan. Akibatnya, mereka menjadi satu-satunya kelompok yang sampai di tujuan sedang semua ke­lompok yang lain tersesat.

Mengapa harus ada orang yang menyesatkan orang lain? Bisa saja orang melakukannya demi untuk keuntungan dirinya sendiri. Betapa naifnya ketika ada orang menjerumus­kan orang lain hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak sadarkah mereka seberapa serius resiko bagi mereka yang melakukannya? Yesus berbicara sangat keras tentang penye­satan itu seperti ditulis Matius 18:6–10.

Mengatakan hal yang benar kepada orang lain sebenarnya bukan perkara yang sulit. Kebenaran yang kita katakan bisa menjadi sebuah petunjuk yang menerangi orang lain. Kita ti­dak diminta untuk menjadi pengobral nasihat bagi orang lain, karena orang tidak suka dinasihati. Yang dibutuhkan adalah ke­beranian kita mengatakan yang benar dan berhikmat ketika se­seorang memintanya kepada kita. Maka pada saat itu hal yang benar itu bisa menjadi petunjuk jalan yang bermakna.

DOA:

Ya Tuhan, tolonglah kami

agar setiap kata-kata kami bisa menjadi lilin yang menerangi orang lain.

Amin.

Mzm. 5; Za. 10:1-12; Mat. 18:6-9

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/10/03/