AHLI WARIS JANJI ALLAH

“… Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru,

supaya mereka yang telah terpanggil

dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan,

sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran ….”

(Ibr. 9:15)

Menerima harta warisan barangkali merupakan hal yang sangat menyenangkan, apalagi jika jumlahnya sangat besar sehingga dapat mencukupi kebutuhan hidup dua hingga tiga keturunan, atau bahkan lebih.

Penulis surat Ibrani mengemukakan bahwa melalui Kristus, sesungguhnya kita menerima warisan yang sangat berharga dari Allah. Warisan yang berguna bukan hanya untuk dan ketika hidup di dunia ini, tetapi bahkan untuk hidup yang kekal. Warisan itu adalah pengampunan dosa dan keselamatan kekal. Supaya kita dapat menerima ba­gian kekal yang dijanjikan Allah itu, maka Yesus telah mati. Kematian Yesus adalah untuk menebus segala pelanggaran dan dosa manusia, dan mengesahkan janji Allah mengenai keselamatan manusia. Penulis Ibrani mengatakan bahwa kematian Yesus perlu dan harus terjadi. Seperti sebuah wasiat yang baru sah setelah pembuat wasiat meninggal, demikianlah seluruh perjanjian baik yang dibawa Musa, kitab Taurat, maupun seluruh perlengkapan ibadah, bahkan seluruh umat disahkan Allah dengan darah atau kematian.

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita adalah ahli waris dari janji keselamatan Allah. Melalui kematian Yesus dosa kita diampuni dan lunas dibayar. Dengan ke­bangkitan Yesus dari antara orang mati, kita menerima hidup yang kekal. Karena itu, hendaklah hidup kita penuh dengan ungkapan syukur dan sukacita.

REFLEKSI:

Menyadari warisan kekal dari Allah di dalam Kristus

membuat kita bersukacita dan mengucap syukur senantiasa.

Mzm. 146; Ul. 15:1-11; Ibr. 9:15-24

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/09/