MENGINGAT KASIH SETIA TUHAN

“Hanya Engkau adalah Tuhan!”

(Neh. 9:6)

Aktivitas “mengingat kembali” pertolongan Tuhan, menjadi kekuatan bagi kita yang sedang berada dalam kesulitan hidup. “Mengingat kembali” juga menjadi latihan rohani agar kita terus menyadari bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, dalam ibadah gereja kita melakukan pengulangan, misalnya: pengakuan dosa dan pengakuan iman rasuli. Semua itu bermanfaat sebagai gizi rohani kita.

Pada perikop ini, kita melihat aktivitas “mengingat kem­bali” dilakukan oleh bangsa Israel dalam bentuk pengakuan dosa dan doa dalam perayaan pondok daun. Doa mereka bukan berisi permohonan, tetapi sebuah pengakuan akan Tuhan, “Hanya Engkau adalah Tuhan!” Tuhan yang penuh kasih setia. Tuhan adalah pencipta (ay. 6); yang mengikat perjanjian dengan Abraham (ay. 7-8); sang penyelamat (ay. 9-10); peme­lihara hidup (ay. 12); yang memberikan peraturan dan sabat (ay. 13-14); yang memberikan tanah perjanjian dalam sumpah-Nya (ay. 15). Pada bagian berikutnya (ay. 16-31), kita melihat penyesalan umat atas kegagalan mereka, namun mereka terus mengakui kasih setia Tuhan.

Hidup adalah ibadah yang seharusnya terus diisi dengan ingatan-ingatan akan kesetiaan Tuhan yang kekal. Melalui ingatan tentang perbuatan kasih Tuhan, dalam iman percaya, kita dapat berkata: “Hanya Dialah Tuhan satu-satunya.” Sudah­kah kita senantiasa mengingat akan kasih setia-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan dengan hidup dalam ketaatan?

REFLEKSI:

Walaupun kita tidak setia, namun Tuhan tetap setia.

Bersyukurlah akan hal ini dan hiduplah dalam ketaatan.

Mzm. 25:1-10; Neh. 9:6-15; 1Tes. 5:1-11

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/29/