MENINGGIKAN TUHAN DALAM KERENDAHAN

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya;

siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi

dan berkata-kata dalam bahasa bumi.

Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.

(Yoh. 3:30-31)

Dalam dunia kerja atau dunia olahraga, kompetisi merupakan hal yang biasa terjadi. Setiap orang berusaha mengejar posisi pertama dan utama. Hal yang terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari. Orang ingin menjadi yang pertama dan utama. Untuk mencapai posisi tersebut, kadang orang tidak segan-segan menjegal atau menjatuh­kan orang lain. Sebuah natur dosa yang membuat manusia selalu ingin mencari kemuliaan atau keuntungan bagi dirinya sendiri.

Bacaan hari ini mengisahkan Yohanes Pembaptis sedang berbicara kepada murid-muridnya. Murid-murid Yohanes tengah dikuasai panas hati karena melihat yang Yesus lakukan, dan melaporkan hal itu kepada Yohanes (ay. 26). Barangkali murid-murid berharap Yohanes akan mengkonfrontasi Yesus. Alih-alih mengkon­frontasi Yesus, Yohanes justru membenarkan Yesus. Yohanes bahkan meninggikan Yesus di hadapan murid-muridnya dan merendahkan dirinya. Ia mengatakan dirinya bukan siapa-siapa dibanding Yesus (ay. 30). Yesus melakukan hal demikian karena Ia benar adalah Allah yang sedang bermisi di dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa (ay. 31-35). Ia adalah Mesias yang sejati. Di dalam-Nya, ada keselamatan yang sejati.

Belajar dari kisah ini, sudahkah kita menempatkan Kristus sebagai yang utama dalam hidup kita? Sudahkah kita memuliakan Dia di dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita? Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis, hidup semakin memuliakan Tuhan dan bu­kan diri sendiri. Tuhan harus semakin besar, tetapi kita harus semakin kecil.

REFLEKSI:

Hanya dengan iman dan kerendahan hati,

kita akan dimampukan menempatkan Yesus sebagai yang utama,

berharga, dan satu-satunya dalam hidup kita.

Mzm. 93; Dan. 7:1-8, 15-18; Yoh. 3:31-36

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/24/