MENJADI SAKSI ALLAH YANG SETIA

Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka,

keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka.

Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka,

maka orang itu harus mati secara itu.

(Why. 11:5)

Sepanjang sejarah berdirinya, gereja kerap mengalami penge­jaran dan penganiayaan. Bahkan hingga sekarang ini, kita men­dengar berita-berita tentang orang-orang percaya yang mengalami penganiayaan di daerah Timur Tengah, dan juga di Korea Utara.

Melalui perikop hari ini, Yohanes mengajak para pembaca untuk merenungkan perlindungan Allah bagi gereja di tengah-tengah penindasan dan penganiayaan yang dialami. Perintah kepada Yohanes untuk membangun dan mengukur Bait Allah (ay. 1), menunjukkan tanda kepemilikan dan perlindungan Allah atas seluruh umat-Nya. Perlindungan ini diberikan dalam kenyataan bahwa bangsa-bangsa yang menolak Injil sedang menganiaya umat Allah (ay. 2). Namun dalam tekanan tersebut, gereja dipanggil untuk menjadi saksi yang disimbolkan sebagai dua saksi Allah, kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian (lih. Zak. 4). Dalam perjuangannya menjadi saksi Allah, ada kalanya gereja mengalami penganiayaan dan bahkan men­jadi martir, seperti yang dialami Kristus. Namun setelah gereja menyelesaikan kesaksiannya, dan setelah semua penderitaan yang dialaminya, gereja akan dibangkitkan oleh Allah dan akan menerima kemuliaan dari Allah (ay. 5, 7-12).

Sebagai saksi Kristus terkadang kita mengalami penolakan, dan bahkan sampai penganiayaan. Tetapi jangan takut. Tetaplah melakukan tugas kesaksian yang dipercayakan Allah. Allah yang mengutus kita, akan melindungi dan menyertai kita.

REFLEKSI:

Menyadari kehadiran dan perlindungan Allah atas kita

menjadikan kita berani menjadi saksi Allah sekalipun di tengah ancaman.

Mzm. 76; Dan. 7:19-27; Why. 11:1-14

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/26/