TAAT PADA FIRMAN TUHAN

Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa,

demikianlah diperbuat anak-anak perempuan Zelafehad.

(Bil. 36:10)

Hukum dan peraturan dibuat untuk ditaati, bukan untuk di­langgar. Firman diberitakan untuk dilakukan, bukan hanya untuk didengar. Tetapi itulah persoalan kita. Kita sering me­langgar hukum dan peraturan serta sering hanya mau men­dengar firman tetapi tidak mau melakukannya.

Menarik untuk diperhatikan, apa yang dilakukan anak-anak perempuan Zelafehad, dari kaum bani Manasye keturunan Yusuf. Mereka mendapat warisan tanah pusaka dari ayahnya yang telah meninggal di padang gurun, kare­na ayahnya tidak memiliki anak laki-laki. Sebagai penerima pusaka, mereka tetap memperhatikan hukum dan per­aturan yang difirmankan TUHAN melalui Musa agar setiap suku Israel menjaga tanah pusaka yang diberikan TUHAN kepada mereka turun-temurun. Agar pusaka itu terjaga dalam sukunya dan tidak beralih ke suku Israel yang lain, maka anak-anak perempuan Zelafehad menaati hukum dengan menikah dengan laki-laki dari kaum Manasye, ke­turunan Yusuf.

Firman hari ini mengingatkan kita, bahwa peraturan, hukum, dan firman yang diberikan Tuhan bukan sekadar untuk diketahui dan dipahami. Tuhan memberikan firman-Nya untuk ditaati. Menaati firman menuntut kesungguhan hati, penyangkalan diri, dan bahkan pengorbanan. Anak-anak perempuan Zelafehad telah melakukannya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah melakukannya?

REFLEKSI:

Menaati firman Tuhan berarti menyangkal keinginan kita

yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Mzm. 146; Bil. 36:1-13; Rm. 5:6-11

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2018/11/08/