BERANI MEMUJI DAN MENEGUR

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara,

demi nama Tuhan kita Yesus Kristus,

supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu ….

(1Kor. 1:10)

“Wah, kamu cantik sekali hari ini!” seru seseorang kepada sahabatnya. Tentu saja setiap orang akan senang bila dipuji, apalagi jika pujian itu diungkapkan dengan tulus. Sayangnya tidak semua orang bisa mengungkapkan pujian. Kita lebih terbiasa mengungkap kekurangan orang lain, itu pun kerap dilakukan dengan sembunyi-sembunyi alias ngerumpi.

Paulus berterus terang mengungkapkan pujiannya kepada jemaat di kota Korintus. Ia mengatakan, “Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal … Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor. 1:5-7). Kurang apa lagi? Segala sesuatu ada di dalam jemaat ini. Mereka kaya dalam harta benda, juga berlimpah orang-orang dengan beragam talenta. Namun sayangnya, itu semua tidak optimal digunakan sebagai kesaksian untuk kemuliaan Tuhan. Mereka sibuk bertengkar; jemaat hidup dalam sekat-sekat primordial: ada golongan Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus. Paulus mengingatkan agar tidak ada perpecahan dalam jemaat itu. Mereka harus sehati sepikir mengerjakan pemberitaan Injil; dengan demikian salib Kristus tidak menjadi sia-sia.

Demi kesaksian Injil dan kemuliaan Tuhan, Paulus tidak segan-segan untuk memberi pujian maupun teguran keras. Belajar dari Paulus, mestinya kita pun tidak pelit dengan pujian. Tentu saja, di pihak lain, berani menegur apabila ada yang keliru.

REFLEKSI:

Pujian yang tulus dan teguran yang tepat

akan membangun kehidupan menjadi lebih baik.

Mzm. 145; Kid. 4:1-8; 1Kor. 1:3-17

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/22/