BERBEDA

“… dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir ….”

(Yes. 6:5)

Seorang penulis bercerita tentang bagaimana ia memelihara ayam. Ayam-ayam itu ditempatkan dalam satu kandang. Mereka semua berlaku persis sama seperti yang lainnya, kecuali ada seekor yang berbeda. Yang berbeda ini ternyata beda ras. Ayam yang tidak sama itu dipatuk oleh ayam-ayam lainnya sampai akhirnya mati.

Sangat mungkin kita akan dianggap aneh dan dimusuhi ketika melakukan apa yang kita anggap benar di tengah orang-orang yang terbiasa melakukan apa yang salah. Bisa jadi nyali kita ciut dan memilih kompromi dengan kebanyakan orang itu. Kondisi itulah yang dirasakan dan dialami Yesaya. Sang calon nabi ini bergumul hebat ketika Allah memanggilnya sebagai utusan di tengah bangsanya yang gemar melakukan dosa. Ia mengatakan, “… aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir …” (Yes. 6:5). Sekarang, Yesaya diminta untuk berbeda dari mereka. Ia harus hidup kudus agar firman dari Yang Mahakudus itu berdampak menguduskan bangsa yang najis itu.

Syukur, dalam pergumulannya, Yesaya dapat melihat kemahakuasaan Allah yang memanggilnya. Ia berkata, “… namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:5). Selanjutnya, Yesaya berkarya menyampaikan sabda dan nubuat TUHAN meski ia sering dimusuhi dan ditolak. Jangan pernah ragu ketika Anda menyatakan kebenaran meski penuh risiko. Pandanglah TUHAN Sang Pemilik kebenaran itu. Ia Mahakuasa dan pasti berpihak kepada Anda!

REFLEKSI:

Berbeda untuk melakukan kebenaran adalah anugerah-Nya.

Mzm. 72; Yes. 6:1-5; Kis. 7:44-53

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/04/