HATI YANG BERSIH

“Jika engkau mau kembali …

kembalilah engkau kepada-Ku ….”

(Yer. 4:1)

Anak itu tertunduk dan tidak kuasa menatap wajah ibunya. Ia menyadari perbuatannya itu tidak hanya telah melukai hati, tetapi sekaligus menghancurkan harapan ibunya. “Meski ibu kecewa dengan perbuatanmu, kamu tetaplah anak ibu!”

Ketika telah mengecewakan orang yang mencintai kita, di sana ada rasa malu dan ragu, apakah orang tersebut benar-benar mau menerima dan memercayai kita lagi atau tidak. Yehuda sepertinya malu dan ragu. Benarkah TUHAN mau menerima mereka kembali sebagai umat-Nya? Ataukah, jangan-jangan TUHAN telah amat murka kepada mereka? TUHAN memahami kegelisahan dan keraguan umat-Nya itu. “Jika engkau mau kembali, hai Israel, demikianlah firman TUHAN, kembalilah engkau kepada-Ku; dan jika engkau mau menjauhkan dewa-dewamu yang menjijikkan, tidak usahlah engkau melarikan diri dari hadapan-Ku!” (Yer. 4:1).

Rasa bersalah dan penghakiman diri yang teramat besar merupakan faktor utama yang membuat kita enggan kembali kepada dekapan kasih Allah. Allah mengerti dan kalau Dia mengampuni maka itu bukan setengah-setengah. Tuntas! Yang diharapkan dari kita hanya satu: pertobatan yang sesungguhnya. “Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu …” (Yer. 4:4). Melalui ungkapan ini, TUHAN mau hati kita bersih, bertobat itu bukan hanya di mulut saja, melainkan berusaha membersihkan hati dari perbuatan yang mendukakan hati TUHAN.

REFLEKSI:

Saksi Tuhan sejati adalah seorang yang berani melakukan firman-Nya

di tengah-tengah lingkungan yang terbiasa melakukan dosa

Mzm. 36:6-11; Yer. 4:1-4; Luk. 11:14-23

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/19/