HUKUM DAN KEADILAN

“Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar;

memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya ….”

(Bil. 27:7)

Cerita tak sedap selalu saja ada di sekitar warisan. Ada pihak yang menginginkan lebih, ada yang merasa dirugikan. Tidaklah mengherankan jika sesama saudara tidak akur malah bermusuhan. Bukan warisannya yang salah. Namun, pembagiannya yang tidak adil.

Pada zaman Musa, hukum waris menggariskan jika seorang ayah wafat, anak laki-laki akan mewarisi harta ayahnya. Anak laki-laki sulung akan mendapat dua kali lipat. Anak-anak perempuan tidak mendapatkan warisan. Mereka hanya menerima hadiah pada waktu menikah. Bila sebuah keluarga hanya memiliki anak perempuan, maka harta warisan mendiang sang ayah akan diberikan kepada saudara laki-laki ayahnya. Zelafehad tidak mempunyai anak laki-laki. Meskipun mereka belum sampai tanah perjanjian, anak-anak perempuan Zelafehad membayangkan bahwa kelak di negeri itu mereka tidak punya tanah. Atas dasar itulah mereka datang kepada Musa memohon keadilan.

Tampaknya Musa tidak bisa memutuskan. Ia bertanya kepada Allah. Allah kemudian menyatakan apa yang harus diputuskan Musa. Anak-anak perempuan diperbolehkan menerima harta warisan jika sang ayah tidak mempunyai anak laki-laki. Kata hukum dan keadilan dalam bahasa Ibrani tidak dapat dipisahkan. Tujuan hukum adalah agar setiap orang mendapatkan keadilan, begitu juga dengan hukum waris. Warisan tidak lagi menjadi konflik ketika penerimanya diperlakukan dengan adil.

REFLEKSI:

Hukum dan keadilan tidak dapat dipisahkan.

Jika hukum tidak bisa memberi rasa adil, maka hukum itu perlu direvisi.

Mzm. 106:1-12; Bil. 27:1-11; Luk. 11:33-36

Sumber :https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/16/