KASIH ALLAH

“Kembalilah, hai anak-anak yang murtad!

Aku akan menyembuhkan engkau dari murtadmu.”

(Yer. 3:22)

Setiap pagi, ibunya bangun pukul dua dini hari. Ia mengolah bahan-bahan mentah untuk dijadikan penganan. Jam setengah lima, ia sudah berada di pasar dan menjajakan penganan hasil olahannya. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan agar anak semata wayangnya dapat bersekolah di kota. Setahun sudah anaknya bersekolah di kota. Bak disambar geledek! Siang itu, ia mendapat kabar bahwa anak kesayangannya tertangkap polisi ketika sedang pesta narkoba. Memilukan!

Memilukan, mungkin itulah gambaran yang tepat untuk Yehuda. Saat itu umat Allah telah terpecah menjadi dua: Yehuda dan Israel. Umat itu diharapkan kembali bersatu dan setia kepada-Nya. Namun, mereka membangkang. “Sungguh Aku mau menempatkan engkau di tengah-tengah anak-anak-Ku dan memberikan kepadamu negeri yang indah, milik pusaka yang paling permai dari bangsa-bangsa. Pikir-Ku, engkau akan memanggil Aku: Bapaku, dan tidak akan berbalik dari mengikuti Aku” (Yer. 3:19). Nyatanya, mereka memuja para dewa di bukit-bukit pengorbanan.

Sesampainya di kantor polisi, sang ibu melihat anak kesayangannya dalam keadaan memilukan. Setengah telanjang dan kedinginan. Ia meraih, memeluk, dan mendekapkan ke dadanya. “Apa pun juga akan kulakukan untuk menebusmu!” Seperti itulah kasih Allah kepada umat-Nya. Ia meraih, memeluk, mendekap dan menebus umat-Nya. Tuhan selalu merindukan anak-anak-Nya kembali ke pangkuan-Nya.

REFLEKSI:

Kembalilah kepada-Nya,

siapa tahu tidak ada lagi waktu untuk bertobat!

Mzm. 36:6-11; Yer. 3:19-25; 1Kor. 7:1-7

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/18/