KEAGUNGAN DALAM CIPTAAN

Langit menceritakan kemuliaan Allah,

dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya ….

(Mzm. 19:2)

Sebuah karya, misalnya lukisan, akan menggambarkan siapa pelukisnya. Ahli lukisan akan segera menangkap gaya, emosi, dan pesan yang hendak disampaikan oleh sang pelukis. Sebuah lukisan yang indah akan dipuji dan dihargai mahal. Nama sang pelukis menjadi tersohor dan dihormati orang. Di sinilah karya dan pencipta terhubung erat.

Pemazmur tampak terpesona melihat keindahan alam semesta. Walau bisu, kebisuan mereka mampu menceritakan kemuliaan Allah sehingga pemazmur dapat mendengar “bisikan” semesta itu. “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya …” (Mzm. 19:2). Betapa indah syair ini, hingga C.S. Lewis sang pujangga sekaligus teolog Inggris menyebut Mazmur 19 sebagai puisi terindah dari semua Mazmur dan tulisan terpenting di dunia. Mengapa? Mazmur ini menggabungkan kemuliaan Allah dalam keindahan ciptaan-Nya (ay. 1-7) dan kesempurnaan Allah dalam firman-Nya (ay. 8-15).

Bila sebuah lukisan dapat memuliakan pelukisnya, alam semesta menceritakan keagungan Penciptanya, bagaimana dengan kita? Bukankah manusia adalah mahkota ciptaan-Nya, makhluk mulia? Jika jagat raya mampu bercerita tentang keagungan Sang Khalik dalam kebisuan mereka, mestinya manusia lebih dari sanggup untuk memuji dan mengagungkan Penciptanya. Tentu tidak cukup hanya bicara. Agungkanlah nama-Nya dengan seluruh eksistensi kita!

REFLEKSI:

Bila alam raya dapat menceritakan keagungan Allah dalam kebisuan mereka,

terlebih manusia yang adalah mahkota ciptaan-Nya.

Mzm. 19; Yes. 61:1-7; Rm. 7:1-6

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/24/