KESALEHAN PALSU

“Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa,

sedang mempelai itu bersama mereka?”

(Luk. 5:34)

Sepasang anak muda dipaksa keluar dari kamar kost sang gadis. Setelah dilucuti mereka diarak, dipertontonkan di ruang publik. Kepada mereka disangkakan tuduhan berbuat mesum. Orang-orang yang menganggap diri “saleh” itu merasa punya kewenangan menelanjangi mereka yang dicap berdosa.

Dalam banyak kesempatan, para pemuka Yahudi merasa punya kewenangan untuk menghakimi orang-orang yang tidak menaati Taurat dan tradisi Yudaisme. Perjumpaan mereka dengan Yesus dan murid-murid-Nya kerap diwarnai kontroversi. Para pemuka Yahudi memakai standar kesalehan mereka untuk menghakimi Yesus dan para murid-Nya. Kali ini yang menjadi pokok kontroversi itu adalah tentang puasa. Semua tahu, puasa merupakan salah satu bentuk kesalehan dan kewajiban religius yang harus dilakukan oleh orang-orang Yahudi, selain berdoa dan memberi sedekah. Orang-orang Farisi menegur Yesus karena murid-murid-Nya tidak melaksanakan ibadah puasa.

Yesus menjawab, bahwa kehadiran-Nya merupakan kehadiran yang membawa sukacita. Oleh karena itu Ia tidak mewajibkan mereka berpuasa. Baru nanti setelah Yesus tidak lagi hadir bersama mereka, mereka pun akan berpuasa. Yesus tidak menolak puasa sebagai bentuk kesalehan. Namun, Ia menolak apabila kesalehan itu dipergunakan untuk menuai pujian dan dipakai untuk menghakimi orang lain yang belum tentu berbuat dosa. Berhati-hatilah dengan kesalehan diri!

REFLEKSI:

Kita saleh, belum tentu orang lain salah.

Mzm. 145; Kid. 4:9—5:1; Luk. 5:33-39

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/23/