MEMPERSEMBAHKAN TUBUH

… supaya kamu mempersembahkan tubuhmu

sebagai persembahan yang hidup ….

(Rm. 12:1)

“Persembahkan tubuhmu kepada Allah,” kira-kira begitu kata Paulus kepada jemaat di kota Roma. Apa maksudnya? Apakah sama seperti ibadah penyembahan berhala zaman purba yang mempersembahkan daging dan/atau tubuh manusia?

Bukan seperti itu! Jangankan persembahan tubuh manusia, korban hewan pun sudah tidak lagi dipergunakan. Cukup pengurbanan Yesus di kayu salib, sekali saja untuk penebusan dosa manusia. Kita semua pada dasarnya telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Oleh darah dan nyawa Kristus kita ditebus dan jalan selamat itu kini terbuka lebar. Logikanya, kita berterima kasih, bersyukur kepada Allah. Ucapan syukur apa yang paling pantas? Paulus menjawab, “Dengan tubuhmu!”

“Ambillah tubuhmu; kerjakan setiap tugas yang dipercayakan kepadamu setiap hari, baik di toko, pabrik, kantor, gudang, jalan, sekolah, pasar, proyek bangunan, sawah-ladang dan di mana saja. Persembahkanlah itu untuk kemuliaan nama Tuhan,” sederhananya seperti itu. Jadi, di mana pun tubuh ini kita bawa, di situlah harus menjadi kesempatan untuk kita memuliakan nama Tuhan. Jika setiap orang merasakan cinta kasih Allah melalui penebusan Kristus di kayu salib dan kemudian mempersembahkan hidupnya sebagai ucapan syukur, maka dampaknya bukan saja kehidupan kita penuh damai sejahtera tetapi juga orang di sekitar kita akan terberkati.

REFLEKSI:

Karya yang baik dapat menjadi cara kita memberi persembahan kepada-Nya.

Mzm. 19; Neh. 2:1-10; Rm. 12:1-8

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/25/