MENGAGUNGKAN TUHAN

TUHAN itu baik kepada semua orang,

dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

(Mzm. 145:9)

Kapan terakhir Anda benar-benar bersyukur dan mengagungkan nama TUHAN? Lalu, untuk alasan apa pujian itu dipanjatkan? Benar, biasanya kita bersyukur dan mengagungkan nama-Nya karena sebuah capaian telah terlampaui; karena sebuah doa telah terjawab. Kita bersyukur dan mengagungkan-Nya karena merasa kebaikan TUHAN itu terjadi untuk diri kita.

Ini kenyataan umum bahwa pujian itu sangat bergantung suasana hati. Namun berbeda dari kebanyakan orang, pemazmur melihat keagungan TUHAN tidak bergantung kepada suara pujian yang berangkat dari suasana hati manusia. Tanpa manusia memuji dan mengagungkan nama-Nya, nama-Nya sudah begitu Agung. Tanpa pengakuan kemahakuasaan-Nya. Ia sudah Mahakuasa! Apa yang dikatakan oleh pemazmur merupakan sebuah pengakuan yang berasal dari pengalaman hidupnya. Pekerjaan Allah itu besar dan ajaib, tanpa henti dari abad ke abad, generasi ke generasi (Mzm. 145:13).

Keagungan TUHAN dipuji karena kasih sayang-Nya. Kasih sayang itu bukan hanya untuk diri si pemazmur saja. “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzm. 145:9). Inilah bentuk pujian yang otentik, bukan berdasar perasaan egosentris semata. Marilah kita juga belajar untuk memuji dan mengagungkan TUHAN, bukan karena doa-doa kita yang terkabul saja, melainkan karena Dia peduli pada semua ciptaan-Nya.

REFLEKSI:

TUHAN tidak hanya peduli kepada kita,

melainkan Dia sangat mengasihi semua ciptaan-Nya.

Di situlah letak keagungan-Nya.

Mzm. 145; Yes. 54:1-8; Rm. 12:9-21

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/21/