MENJADI SAKSI TUHAN

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita

lalu menutupinya dengan tempayan ….”

(Luk. 8:16)

“Ayo, siapa yang mau bersaksi hari ini?” tantang seorang pemimpin ibadah. Sejenak semua peserta ibadah itu terdiam. Suasana begitu hening, hanya mata yang saling melirik kiri kanan. Ada banyak alasan orang enggan bersaksi menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Mengapa? Selain tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak, takut disebut sombong rohani!

Kesaksian bagi sebagian komunitas kristiani merupakan kesempatan untuk menceritakan tentang karya Tuhan terhadap dirinya. Misalnya, sembuh dari sakit, lepas dari masalah pelik, luput dari kecelakaan, berhasil meraih kesuksesan dalam studi, usaha atau karier. Tentu saja pengalaman-pengalaman itu dapat menjadi berkat bagi orang yang mendengarnya. Lalu, apakah kesaksian seperti itu saja yang diinginkan Tuhan?

Menyimak bacaan hari ini yang berujung pada pernyataan Yesus, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk. 8:21), ini menyiratkan bahwa menjadi saksi itu adalah dengan cara melakukan firman Allah setiap hari dalam segala kondisi, terlebih dalam kehidupan yang terbiasa permisif dengan perilaku dosa. Di situlah setiap anak Tuhan harus menjadi terang dalam lingkungannya. Terang tidak usah ditutupi! Jangan malu atau takut bila dianggap ganjil lantaran kita melakukan firman-Nya. Justru di tempat seperti itulah Tuhan menginginkan kita menjadi berkat bagi banyak orang!

REFLEKSI:

Saksi Tuhan sejati adalah seorang yang berani melakukan firman-Nya

di tengah-tengah lingkungan yang terbiasa melakukan dosa.

Mzm. 72; Ayb. 42:10-17; Luk. 8:16-21

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/03/