PARRESIA

Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya,

yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita,

jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.

(1Yoh. 5:14)

Parresia adalah kata yang unik dalam bahasa Yunani. Semula, kata ini berarti kebebasan untuk berbicara. Merdeka berbicara terus terang dalam alam demokrasi. Kata ini kemudian berkembang, dipakai untuk mengartikan kepercayaan. Yohanes memakai kata ini untuk menunjukkan bahwa kepada Allah kita bebas berbicara. Kita percaya bahwa Dia mengabulkan apa saja yang kita minta. Sampai di sini kita suka dengan kalimat ini. Namun, kita lupa kalimat setelah itu bahwa “Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu menurut kehendak-Nya” (1Yoh. 5:14).

Bisa saja kini kita bertanya, “Kok seperti iklan saja, syarat dan ketentuan berlaku. Apa saja yang diminta tetapi pada kenyataannya ada batasan: menurut kehendak-Nya!” Sepintas bisa ditafsirkan begitu. Namun, kalau ditelisik lebih jauh: mungkinkah Allah —yang dalam surat 1 Yohanes berkali-kali kita sebut adalah kasih dan sumber kasih— terus-menerus kita minta hanya untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri atau meminta-Nya menghukum musuh kita? Rasanya tidak mungkin seperti itu. Ketika kita bergaul akrab dengan Allah maka sesuai dengan kehendak-Nya bukanlah pembatasan, melainkan cara kita mengasihi-Nya melalui sesama.

Kasih melalui sesama itu dinyatakan dalam mendoakan mereka supaya menghindari dosa. Doa yang benar tentu harus disertai tindakan nyata. Selain doa, Tuhan menghendaki kita menjadi alat dalam tangan-Nya untuk menyatakan kebenaran kepada mereka.

REFLEKSI:

Kita bebas berdoa apa saja dan Tuhan mendengar.

Mzm. 106:1-12; Hak. 5:12-21; 1Yoh. 5:13-21

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/15/