PENGHAKIMAN TERAKHIR

“… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang

dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

(Mat. 25:40)

Ada awal dan akhir, ada kelahiran dan kematian, begitulah setiap makhluk ciptaan, kata Pengkhotbah (Pkh. 3:2). Kelahiran telah kita lewati. Kini, kematian dan akhir zaman ada di depan kita. Sayangnya, tak seorang pun tahu kapan itu akan terjadi.

Di balik kematian dan akhir zaman, kitab suci mengingatkan akan ada penghakiman yang tidak dapat dielakkan oleh siapa pun. Untuk itulah Yesus berkata kepada para murid-Nya agar senantiasa berjaga-jaga. Ketika itu, Anak Manusia datang dalam kemuliaan bersama dengan para malaikat-Nya; Ia memisahkan “kambing” dari “domba.” Kambing di sebelah kiri dan domba di sebelah kanan. Ukuran penghakiman itu adalah perilaku kasih terhadap “saudara-Ku yang paling hina.” Sang Hakim Agung menjadikan diri-Nya tolok ukur. Siapa yang sungguh mengasihi yang tersisih dan paling hina, telah melakukan untuk diri-Nya dan layak ada di sebelah kanan-Nya. Sebaliknya, yang tidak peduli dihempaskan ke dalam api yang kekal!

Tentang kasih terhadap sesama, Yesus telah mengajarkannya kepada para murid. Ia sudah menjawab pertanyaan orang Farisi mengenai hukum yang paling utama. Ia menyebut kasih terhadap Allah dan sesama sebagai sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Marilah di awal tahun ini kita kembali memperbarui komitmen kita untuk sungguh-sungguh mengasihi setiap orang yang kita jumpai. Pakailah kesempatan sisa usia kita untuk melakukan yang terbaik: mengasihi-Nya melalui sesama.

REFLEKSI:

Kasih terhadap sesama adalah cerminan kasih kita kepada Allah.

Pkh. 3:1-13; Mzm. 8; Why. 21:1-6a; Mat. 25:31-46

Sumber : https://www.ykb-wasiat.org/2019/01/01/